ID EN

Cerita Arenga

Sejarah Arenga Indonesia: Dari Perjuangan Nira Aren hingga Menjadi Brand Gula Aren Organik

Perajin sedang mengolah nira aren secara tradisional sebagai bagian dari perjalanan sejarah Arenga Indonesia menuju brand gula aren organik.

Sejarah Arenga Indonesia: Dari Perjuangan Nira Aren hingga Menjadi Brand Gula Aren Organik.

Bagaimana usaha gula aren yang dimulai pada Desember 2005 berkembang menjadi Arenga Indonesia yang dikenal hingga hari ini?

Ketika menikmati gula aren dalam secangkir kopi, sebotol Liquid Palm Sugar, atau sebungkus gula semut, kita biasanya hanya melihat produk akhirnya.

Padahal, di belakangnya ada perjalanan panjang.

Ada pohon aren. Ada petani yang menyadap nira. Ada gula aren setengah jadi. Ada proses pengolahan. Ada upaya membangun pasar. Ada sertifikasi. Ada perubahan nama brand. Dan ada sebuah perusahaan yang selama hampir dua dekade terus mengembangkan produk berbasis nira aren.

Perjalanan itu adalah perjalanan CV Diva Maju Bersama, perusahaan yang didirikan oleh Indrawanto, dan kemudian berkembang dengan identitas brand Arenga Indonesia.

Jejak sejarahnya tidak hanya tersimpan di website perusahaan.

Arsip Agro Indonesia, Bisnis Indonesia, Majalah DUIT!, KONTAN, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Universitas Indonesia, Universitas Multimedia Nusantara, IMO Switzerland, INOFICE, Aliansi Organis Indonesia, hingga berbagai pihak ketiga ikut membentuk jejak dokumenter Arenga.

Karena itu, sejarah Arenga bukan sekadar cerita yang ditulis kembali.

Ia adalah perjalanan yang meninggalkan jejak di banyak sumber.


Desember 2005: Semuanya Bermula dari CV Diva Maju Bersama

Titik awal perjalanan bisnis Arenga dapat ditelusuri hingga Desember 2005.

Pada masa itu, Indrawanto yang sebelumnya telah berkarier sekitar 20 tahun di perusahaan swasta memutuskan untuk membangun usaha sendiri.

Ia kemudian mendirikan CV Diva Maju Bersama dan memilih gula semut aren sebagai bidang usaha.

Arsip yang mempertahankan laporan Tabloid Agro Indonesia edisi September 2006 mencatat bahwa kegiatan usaha tersebut dimulai pada Desember 2005. Modal awal yang disebut sekitar Rp200 juta, dengan produk awal bernama Diva’s Palm Sugars.

Arsip “Usaha Keren, Gula Semut Aren” — Tabloid Agro Indonesia, September 2006

Pada periode awal tersebut, pasokan gula aren disebut mencapai sekitar 20–30 ton per bulan dari petani. Kapasitas produksi sekitar 30 ton per bulan, dan sebagian produksinya telah diserap oleh industri makanan serta enam pabrik di Tangerang dan Jakarta.

Jadi sejak awal, gagasannya bukan sekadar menjual gula aren sebagai komoditas tradisional.

Ada usaha untuk memberikan nilai tambah melalui pengolahan, bentuk produk, pengemasan, dan akses pasar.

Itulah fondasi yang kemudian berkembang menjadi perjalanan Arenga.


2006: Tahun yang Menjadi Penanda Perjalanan Arenga

Jika Desember 2005 merupakan titik awal pendirian usaha, maka 2006 menjadi tahun penting dalam pembentukan identitas Arenga.

Arsip tulisan Evi Indrawanto mengenai aren menunjukkan bahwa komunikasi mengenai tanaman aren, gula aren, petani, dan potensi ekonominya sudah aktif pada April 2006.

Jejak tersebut berasal dari era awal internet ketika blog masih menjadi salah satu media utama untuk berbagi pengetahuan.

Hari ini, Arenga menggunakan 2006 sebagai tahun identitas brand/perusahaan. Halaman resmi Arenga menyebut Arenga Indonesia berada di bawah CV Diva Maju Bersama dan mencantumkan tahun berdiri 2006.

Tentang Kami — Arenga Indonesia

Karena itu, sejarah yang paling presisi bukan memilih salah satu tanggal dan menghapus yang lain.

Melainkan:

Desember 2005 — CV Diva Maju Bersama didirikan dan usaha dimulai.

2006 — menjadi tahun penting dalam identitas dan jejak awal Arenga.

Dua informasi tersebut justru saling melengkapi.


Dari Diva’s Palm Sugar Menuju Diva’s Arenga Palm Sugar

Pada fase awal, produk dikenal dengan nama Diva’s Palm Sugar atau Diva’s Palm Sugars.

Namun identitas tersebut kemudian berkembang.

Dokumentasi Majalah DUIT! No. 04/III, April 2008 menyebut bahwa Evi Indrawanto bersama suaminya membangun bisnis pengolahan nira aren menjadi gula semut atau gula aren kristal dengan merek Diva’s Arenga Palm Sugar. Dalam tulisan tersebut Evi juga menjelaskan alasan mereka mendirikan CV Diva Maju Bersama.

Arsip Majalah DUIT! — “Awal Kisah Perjalanan Bisnis Kami”

Di sinilah perubahan identitas mulai terlihat:

Diva’s Palm Sugar

Diva’s Arenga Palm Sugar

Arenga Palm Sugar / Arenga

Arenga Indonesia

Nama Arenga kemudian menjadi identitas yang semakin kuat.

Nama tersebut berasal dari Arenga pinnata, nama ilmiah tanaman aren, yang menjadi sumber utama bahan baku produk.

Hari ini Arenga secara resmi menjelaskan bahwa brand tersebut berada di bawah CV Diva Maju Bersama dan berfokus pada pengolahan nira aren menjadi produk bernilai tambah.


2007–2008: Dari Gula Semut Menjadi Produk dengan Berbagai Bentuk

Perjalanan bisnis Arenga tidak berhenti pada gula semut.

Pada 2008, dokumentasi yang mempertahankan laporan Bisnis Indonesia mencatat bahwa CV Diva Maju Bersama mengolah nira menjadi gula aren semut atau kristal dan gula aren cair di Tangerang, Banten.

Produk tersebut juga sudah dipasarkan ke luar Banten dan Jakarta, termasuk wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Arsip Aren Indonesia — Berita 2008 tentang CV Diva Maju Bersama

Hal ini memperlihatkan bahwa sejak periode awal Arenga sudah mengembangkan gula aren ke beberapa bentuk produk.

Gula semut.

Gula aren cair.

Gula aren cetak.

Salah satu arsip lama bahkan mencatat CV Diva Maju Bersama sebagai produsen gula organik dalam bentuk gula semut, gula aren cetak, dan gula aren cair.

Arsip “Produsen Produk Aren” — Aren Indonesia

Ini menjadi bagian penting dari DNA bisnis Arenga: mengembangkan bentuk dan fungsi gula aren sesuai kebutuhan pasar.


2008: Jejak Awal Gula Aren Cair

Gula aren cair memiliki tempat khusus dalam sejarah Arenga.

Dokumentasi 2008 sudah mencatat gula aren cair sebagai bagian dari pengolahan CV Diva Maju Bersama.

Kemudian pada April 2009 muncul dokumentasi produk yang lebih spesifik mengenai Liquid Palm Sugar dalam botol kaca 650 ml.

Karena perjalanan gula aren cair memiliki kronologi yang panjang, sejarahnya tidak perlu diulang seluruhnya di halaman ini.

Baca selengkapnya:

Sejarah Gula Aren Cair: Jejak Liquid Palm Sugar di Indonesia hingga Arenga

Artikel tersebut mendokumentasikan perkembangan gula aren cair Arenga dari 2008, produk botol 650 ml pada 2009, penggunaannya untuk kopi pada 2012, hingga perkembangan produk pada 2018 dan 2020.

Dengan demikian, halaman ini berfungsi sebagai sejarah perusahaan dan brand, sedangkan artikel tersebut menjadi deep-dive sejarah produk Liquid Palm Sugar.


2008: Arenga Mulai Mendapat Sorotan Media

Tahun 2008 merupakan periode penting bukan hanya karena perkembangan produk.

Nama Arenga dan CV Diva Maju Bersama juga mulai memiliki jejak media yang semakin jelas.

Majalah DUIT! memuat kisah perjalanan bisnis Indrawanto dan Evi.

Bisnis Indonesia memberitakan bisnis gula aren CV Diva Maju Bersama.

Dalam tulisan Arenga Stories, Eben Ezer Siadari dari Majalah DUIT! menggambarkan perkembangan bisnis Indrawanto, hubungan dengan petani, serta cita-cita agar Arenga dikenal sebagai pemanis sehat dari Indonesia. Artikel tersebut secara eksplisit menyebut bahwa tulisan itu muncul di Majalah DUIT! No. 2/III/2008.

Arenga Stories — arsip Majalah DUIT! No. 2/III/2008

Yang menarik, pada periode ini pembicaraan mengenai Arenga sudah mencakup bukan hanya produk.

Tetapi juga:

petani → kualitas → pasar → kemasan → standar → masa depan bisnis.

Artinya, Arenga mulai dipandang sebagai sebuah usaha pengembangan produk gula aren, bukan sekadar perdagangan gula.


Petani Menjadi Bagian dari Sejarah Arenga

Tidak mungkin membicarakan sejarah Arenga tanpa membicarakan petani.

Pada periode awal, perusahaan memperoleh pasokan dari petani di sekitar Jawa Barat dan wilayah lainnya. Seiring berkembangnya bisnis, jaringan tersebut menjadi semakin luas.

Dokumentasi tahun 2007 menyebut sekitar 300 petani di Banten dan Jawa Barat bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan palm sugar.

Pada 2009, sumber lain menyebut jumlahnya telah mencapai 400 petani, sedangkan publikasi lain pada periode yang sama menyebut tidak kurang dari 500 petani sebagai pemasok bahan baku.

Angka-angka tersebut berasal dari periode berbeda. Karena itu, tidak tepat jika semuanya digabungkan menjadi satu angka.

Yang lebih penting adalah fakta bahwa jaringan petani merupakan bagian konsisten dari model bisnis Arenga sejak periode awal.

Bahkan dalam kajian pemerintah, hubungan tersebut tercatat secara lebih formal.


2006–2011: CV Diva Maju Bersama Masuk dalam Kajian Pemerintah

Salah satu bukti eksternal paling penting datang dari Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten, bagian dari Badan Litbang Pertanian.

Dalam kajian mengenai model kemitraan pemasaran gula aren di Kabupaten Lebak, BPTP Banten menyebut CV Diva Maju Bersama sebagai mitra usaha dalam pemasaran gula aren.

Kajian tersebut berangkat dari kegiatan Kajian Ekonomi Aren sebagai Komoditas Prospektif dan Unggulan Daerah tahun 2006 dan kemudian diterbitkan dalam prosiding Badan Litbang Pertanian pada 2011.

Abstraknya menyatakan bahwa keberadaan CV Diva Maju Bersama sebagai mitra usaha membantu menjamin ketersediaan pasar bagi produk gula aren kelompok usaha.

Arsip Badan Litbang Pertanian — Model Kemitraan Usaha Pemasaran Gula Aren di Kabupaten Lebak

Ini merupakan bukti yang sangat penting.

Karena sejarah Arenga di sini tidak lagi hanya berasal dari narasi perusahaan.

CV Diva Maju Bersama tercatat dalam kajian pemerintah mengenai rantai pemasaran gula aren dan hubungan dengan kelompok petani.


2009: Arenga dan Perjalanan Produk Organik

Pada 2009, dokumentasi mengenai Arenga sebagai produk organik semakin kuat.

Artikel yang memuat kembali pemberitaan Harian KONTAN, 11 Maret 2009, menyebut gula semut merek Arenga sebagai produk olahan CV Diva Maju Bersama. Artikel tersebut juga menggambarkan Evi mengembangkan jaringan pemasok hingga sekitar 400 petani dan membangun fasilitas pengolahan di Serpong.

Arsip Harian KONTAN — “Manisnya Laba dari Bisnis Gula Sehat”, 11 Maret 2009

Pada periode yang sama, artikel dari Majalah Wirausaha dan Keuangan menyebut kerja sama dengan tidak kurang dari 500 petani serta sertifikasi organik dari The Institute Marketecology (IMO) Switzerland.

Arsip Majalah Wirausaha dan Keuangan — Evi Indrawanto dan bisnis gula semut

Ini merupakan tonggak penting.

Sebab organik bukan hanya persoalan bahan baku.

Dalam perjalanan Arenga, sertifikasi juga berarti ketertelusuran.

Evi kemudian menulis mengenai proses audit organik dan bagaimana dokumentasi dari pengolah, pengumpul, CV Diva Maju Bersama, hingga pasar harus tersedia untuk mendukung proses audit.

Arsip “Mengapa Arenga Palm Sugar Disebut Organik?”

Untuk kisah lengkap perjalanan sertifikasi:

Sertifikasi Gula Aren Organik: Cerita Arenga Menghadapi Audit dan Dokumentasi


IMO Switzerland: Jejak Sertifikasi Organik yang Bisa Ditelusuri

Jejak IMO bukan hanya muncul dalam tulisan lama.

Dalam dokumentasi IMO Swiss, CV Diva Maju Bersama tercatat dalam database operasi yang pernah disertifikasi, dengan Operation ID 9390003938. Database 2015 mencatat status operasi tersebut sebagai Suspended efektif 24 Februari 2015.

Database IMO Swiss — Certified Operations 2015

Catatan ini penting justru karena kita tidak perlu mengubahnya menjadi klaim bahwa sertifikasi IMO masih berlaku sampai sekarang.

Yang dapat dikatakan secara historis adalah:

CV Diva Maju Bersama memiliki jejak sertifikasi organik historis melalui IMO Switzerland.

Kemudian perjalanan sertifikasi berlanjut melalui lembaga lain.


INOFICE: Jejak Sertifikasi Berlanjut

Dokumentasi INOFICE memberikan bukti yang lebih baru.

Dalam daftar operator, CV Diva Maju Bersama tercatat di Serpong Utara, Tangerang Selatan dengan komoditas Gula Semut Aren dan Gula Aren Cair “Arenga & Kukula”.

Dokumen INOFICE mencantumkan nomor sertifikat 393-INOFICE/LSPr-090-IDN/05/22. Dokumen 2025 mencatat tanggal pembaruan 23 Mei 2026 dan status sertifikat berlaku.

INOFICE — Data Operator dan Sertifikasi CV Diva Maju Bersama

Dokumen sebelumnya juga mencatat produk yang sama, yaitu Gula Semut Aren dan Gula Aren Cair “Arenga & Kukula”, sebagai produk yang disertifikasi.

Ini memperlihatkan adanya kesinambungan dokumentasi sertifikasi, dari jejak IMO pada periode awal hingga INOFICE pada periode berikutnya.


2011: Arenga Masuk dalam Direktori Organik

Jejak Arenga juga muncul dalam dokumentasi Aliansi Organis Indonesia (AOI).

Dalam statistik Standar Pertanian Organik Indonesia 2011, DIVA MAJU BERSAMA, CV tercatat dengan kontak Indrawanto, alamat di Alam Sutera, Serpong, dan produk gula aren. Lokasi kebun dicatat di Banten dan Sukabumi.

Aliansi Organis Indonesia — Statistik SPOI 2011

Jejak ini menarik karena menunjukkan bahwa hubungan CV Diva Maju Bersama dengan dunia organik sudah terdokumentasi bukan hanya oleh lembaga sertifikasi, tetapi juga dalam ekosistem organisasi organik Indonesia.


2017: Arenga Masuk ke Literatur Akademik Universitas Indonesia

Nama CV Diva Maju Bersama kemudian muncul dalam penelitian akademik.

Pada 2017, Universitas Indonesia menerbitkan skripsi mengenai penggunaan sistem moving-bed biofilm sequencing batch reactor untuk mengolah air limbah industri gula aren.

Penelitian tersebut secara eksplisit menyebut bahwa proses produksi gula aren di CV Diva Maju Bersama menghasilkan air limbah dengan COD lebih dari 2.000 mg/l dan menjadikan industri tersebut sebagai objek penelitian.

Universitas Indonesia — Penelitian Industri Gula Aren CV Diva Maju Bersama

Ini bukan bukti pemasaran.

Justru karena itu nilainya berbeda.

Nama CV Diva Maju Bersama muncul dalam konteks penelitian akademik tentang proses industri.


Universitas Multimedia Nusantara: Arenga Masuk dalam Kajian Brand

Jejak akademik lainnya datang dari Universitas Multimedia Nusantara.

Dalam karya akademik mengenai perancangan kampanye promosi, Arenga Indonesia digunakan sebagai salah satu brand pembanding/kompetitor.

Dokumen tersebut menyebut Arenga Indonesia berada di bawah CV Diva Maju Bersama, berdiri sejak 2006 di Serpong, dan memproduksi gula aren organik dalam bentuk cair dan bubuk serta bekerja sama dengan petani dan perajin gula aren Banten.

Universitas Multimedia Nusantara — Kajian Arenga Indonesia sebagai brand pembanding

Dengan demikian, Arenga tidak hanya muncul dalam penelitian tentang produksi gula.

Ia juga muncul sebagai objek kajian brand dan komunikasi pemasaran.


Kementerian Pertanian: CV Diva Maju Bersama Tercatat sebagai Pelaku Produk Organik

Jejak yang lebih langsung datang dari data Kementerian Pertanian.

Dalam database SIPASBUN, CV Diva Maju Bersama tercatat di Tangerang Selatan, Banten, dengan komoditas Produk Organik, kontak Indrawanto, dan status Ekspor.

SIPASBUN Kementerian Pertanian — Data CV Diva Maju Bersama

Ini memperkuat bahwa CV Diva Maju Bersama memiliki jejak dalam ekosistem pemerintah sebagai pelaku produk organik.

Namun, seperti halnya catatan promosi internasional, data tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan negara tujuan atau volume ekspor tertentu.

Karena itu, sejarah Arenga membedakan:

status ekspor dalam database pemerintah
dari
klaim ekspor ke negara tertentu.


Indrawanto sebagai Founder, Evi sebagai Bagian Penting Perjalanan Bisnis

Sejarah Arenga tidak lengkap tanpa dua nama yang berulang kali muncul dalam dokumentasi lama:

Indrawanto dan Evi Indrawanto.

Indrawanto berada di titik awal pendirian CV Diva Maju Bersama pada Desember 2005.

Evi menjadi figur penting dalam perjalanan bisnis, pengembangan produk, dokumentasi, edukasi, komunikasi, dan penceritaan brand.

Arsip Majalah DUIT! 2008 secara eksplisit menceritakan bagaimana Evi dan suaminya membangun bisnis pengolahan nira aren dari rumah dan menggunakan merek Diva’s Arenga Palm Sugar.

Sementara itu, katalog Aliansi Organis Indonesia 2025 menyebut:

CV Diva Maju Bersama (Arenga) hadir sejak 2006 dan Bapak Indrawanto sebagai Founder.

Katalog tersebut juga menyebut kontribusi perusahaan kepada sekitar 500 petani.

Dengan demikian, formulasi sejarah yang paling tepat adalah:

Indrawanto adalah founder CV Diva Maju Bersama/Arenga, sementara Evi Indrawanto merupakan figur penting dalam pembangunan, pengembangan, dokumentasi, dan komunikasi bisnis Arenga.

Formulasi tersebut menghormati bukti sejarah tanpa menghapus kontribusi salah satu pihak.

Evi dan Indrawanto, pendiri Arenga Indonesia
Founder Arenga

Jejak Merek: Dari Nama Produk hingga Identitas Arenga

Perubahan nama merupakan bagian penting dari sejarah brand.

Dokumentasi lama memperlihatkan penggunaan:

Diva’s Palm Sugar

kemudian:

Diva’s Arenga Palm Sugar

dan selanjutnya:

Arenga Palm Sugar / Arenga Indonesia.

Ada pula tulisan yang menjelaskan bahwa perubahan nama dilakukan seiring kebutuhan untuk melindungi identitas brand secara hukum.

Namun untuk urusan status pendaftaran merek secara hukum, sejarah harus berhati-hati.

Sebuah tulisan lama dari pihak internal menyebut adanya pendaftaran merek, tetapi nomor dan tanggal pendaftaran tersebut belum kita jadikan klaim final tanpa verifikasi langsung dari database resmi administrasi merek.

Karena itu, halaman sejarah ini cukup menyatakan bahwa:

nama Arenga berkembang menjadi identitas brand utama perusahaan, sementara hubungan antara Arenga dan CV Diva Maju Bersama terdokumentasi dalam berbagai sumber sejak periode 2000-an.

Dengan pendekatan tersebut, sejarah tetap kuat tanpa mengubah klaim internal menjadi fakta hukum yang belum diverifikasi.


Jejak Pihak Ketiga: Arenga Tidak Hanya Dikenal dari Website Sendiri

Jejak lain muncul dari pihak ketiga.

Pada 2019, misalnya, situs Keposiasi menulis tentang perbedaan palm sugar dan brown sugar dan menyebut Arenga Indonesia sebagai salah satu merek gula palem yang mereka kenal.

Artikel tersebut juga menyebut nama perusahaan CV Diva Maju Bersama dan lokasi Tangerang Selatan. Penulis bahkan menjelaskan bahwa mereka membeli produk Arenga sendiri.

Keposiasi — “Tahu Perbedaan Palm Sugar dan Brown Sugar?”

Jejak seperti ini sederhana, tetapi penting.

Sebab ia menunjukkan bahwa Arenga tidak hanya eksis melalui komunikasi perusahaan.

Brand tersebut juga muncul dalam pengalaman dan pembahasan pihak luar.


Jejak Historis Arenga Tersebar di Banyak Institusi

Jika seluruh sumber tersebut disusun, kita mendapatkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar timeline.

Kita mendapatkan jejak dokumenter lintas institusi.

Media dan arsip lama

Agro Indonesia
→ dokumentasi awal usaha sejak Desember 2005.

Bisnis Indonesia
→ perkembangan CV Diva Maju Bersama dan produk gula aren pada 2008.

Majalah DUIT!
→ perjalanan Indrawanto dan Evi serta identitas Diva’s Arenga Palm Sugar pada 2008.

KONTAN
→ perkembangan bisnis Arenga dan jaringan petani pada 2009.

Pemerintah dan lembaga negara

Badan Litbang Pertanian / BPTP Banten
→ CV Diva Maju Bersama tercatat sebagai mitra usaha pemasaran gula aren.

Kementerian Pertanian
→ CV Diva Maju Bersama tercatat sebagai pelaku produk organik dengan status ekspor.

Akademik

Universitas Indonesia
→ CV Diva Maju Bersama menjadi objek penelitian industri gula aren.

Universitas Multimedia Nusantara
→ Arenga Indonesia dikaji sebagai brand dalam penelitian komunikasi/pemasaran.

Sertifikasi dan organisasi organik

IMO Switzerland
→ jejak sertifikasi organik historis CV Diva Maju Bersama.

INOFICE
→ dokumentasi sertifikasi Gula Semut Aren dan Gula Aren Cair dengan nama dagang Arenga & Kukula.

Aliansi Organis Indonesia
→ CV Diva Maju Bersama/Arenga muncul dalam dokumentasi organisasi organik, termasuk katalog dan statistik SPOI.

Pihak ketiga

Blogger dan media independen
→ Arenga muncul sebagai brand produk gula aren yang digunakan, dibahas, atau direkomendasikan di luar kanal perusahaan.

Rangkaian tersebut dapat diringkas:

Agro Indonesia → Bisnis Indonesia → Majalah DUIT! → KONTAN → Badan Litbang Pertanian → Kementerian Pertanian → Universitas Indonesia → Universitas Multimedia Nusantara → IMO Switzerland → INOFICE → Aliansi Organis Indonesia → pihak ketiga.

Inilah yang membuat sejarah Arenga memiliki entity footprint yang cukup panjang.

Bukan karena satu halaman mengatakan demikian.

Tetapi karena nama CV Diva Maju Bersama, Arenga, Indrawanto, produk gula aren, jaringan petani, dan sertifikasi muncul berulang kali dalam sumber yang berbeda dan untuk konteks yang berbeda.


Dari CV Diva Maju Bersama Menjadi Arenga Indonesia

Jika perjalanan tersebut diringkas dalam satu garis waktu, gambarnya menjadi lebih jelas.

2005

Indrawanto mendirikan CV Diva Maju Bersama dan memulai usaha gula semut aren pada Desember.

2006

Jejak komunikasi dan identitas awal Arenga mulai terlihat; 2006 kemudian digunakan sebagai tahun identitas perusahaan/brand.

2006–2007

Produk dikenal sebagai Diva’s Palm Sugar / Diva’s Palm Sugars.

2007–2008

Jaringan petani berkembang dan pasar mulai meluas.

2008

Nama Diva’s Arenga Palm Sugar muncul. Gula aren semut dan gula aren cair sudah menjadi bagian dari produk.

2009

Nama Arenga semakin jelas dalam pemberitaan bisnis. Produk gula semut organik dan jaringan petani menjadi bagian penting dari bisnis.

2009–2010

Jejak sertifikasi organik dan proses ketertelusuran semakin terdokumentasi.

2011

CV Diva Maju Bersama tercatat dalam kajian Badan Litbang Pertanian mengenai kemitraan pemasaran gula aren.

2010-an

Arenga berkembang melalui berbagai bentuk produk dan aplikasi, termasuk gula semut, gula aren cair, bakery, minuman, dan kebutuhan industri makanan.

2017

CV Diva Maju Bersama masuk dalam penelitian Universitas Indonesia mengenai industri gula aren.

2020-an

Identitas Arenga Indonesia semakin kuat sebagai brand, sementara CV Diva Maju Bersama tetap menjadi entitas perusahaan di belakangnya.

2025–2026

AOI kembali mencatat CV Diva Maju Bersama (Arenga) dan menyebut Indrawanto sebagai Founder, sementara dokumen INOFICE terbaru menunjukkan kesinambungan sertifikasi untuk gula semut aren dan gula aren cair.


Arenga Indonesia Hari Ini

Hampir dua dekade setelah usaha tersebut dimulai, Arenga Indonesia tetap membawa hubungan yang sama:

pohon aren → petani → nira → pengolahan → produk → pasar.

Bedanya, kebutuhan pasar terus berubah.

Hari ini Arenga memfokuskan produknya pada:

  • Liquid Palm Sugar
  • Palm Sugar Granules / Gula Semut
  • Gula Aren Cetak

dengan pasar B2B dan B2C.

Arenga Indonesia — Tentang Kami

Model bisnis tersebut tetap menghubungkan petani di Banten dan Jawa Barat dengan proses pengolahan serta standardisasi di fasilitas Arenga.

Untuk memahami perjalanan bahan bakunya:

Gula Aren Organik Banten: Perjalanan Nira dari Pohon Aren hingga Menjadi Gula Aren Arenga

Dan untuk memahami bagaimana gula aren diproses menjadi bahan baku berbagai kebutuhan bisnis:

Gula Aren: Dari Nira Aren hingga Menjadi Pemanis Pilihan untuk Bisnis


Hampir Dua Dekade, Cerita Arenga Masih Berlanjut

Sejarah Arenga tidak dimulai dari tren kopi susu gula aren.

Ia dimulai ketika Indrawanto mendirikan CV Diva Maju Bersama pada Desember 2005 dan memilih gula semut aren sebagai bidang usaha.

Dari sana muncul Diva’s Palm Sugar.

Kemudian berkembang menjadi Diva’s Arenga Palm Sugar.

Lalu identitas Arenga semakin kuat.

Produk berkembang dari gula semut menjadi berbagai bentuk, termasuk gula aren cair.

Jaringan petani tumbuh.

Pasar berkembang.

Sertifikasi organik menjadi bagian penting.

Arenga mulai muncul dalam pemberitaan media, kajian pemerintah, penelitian akademik, dokumentasi organisasi organik, lembaga sertifikasi, dan publikasi pihak ketiga.

Hari ini, semuanya bermuara pada Arenga Indonesia di bawah CV Diva Maju Bersama.

Karena itu, sejarah Arenga bukan sekadar sejarah sebuah merek.

Ia adalah sejarah tentang bagaimana nira aren Indonesia diberi nilai tambah.

Tentang bagaimana petani menjadi bagian dari rantai nilai.

Tentang bagaimana gula aren tradisional berkembang menjadi bahan baku untuk kopi, bakery, makanan, minuman, restoran, dan industri.

Dan tentang bagaimana sebuah usaha yang dimulai hampir dua dekade lalu terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, perjalanan itu selalu kembali ke titik yang sama:

pohon aren.

Dari sana nira mengalir.

Petani mengolahnya.

Arenga memberikan nilai tambah.

Dan perjalanan gula aren Indonesia terus berlanjut.